Monday, January 12, 2026

Kenapa Kota Butuh Burung? Part 2

 


Kita renungkan kembali tulisan sebelumnya Dimana fungsi utama burung adalah sebagai pengendali hama (https://kucingbatu.blogspot.com/2026/01/kenapa-kota-butuh-burung-part-1.html).

Hama seperti apa yang dimaksud? Apakah ulat, lalat, nyamuk, kumbang dan lainnya, ok dalam tulisan ini akan saya jelaskan mengenai hama ulat bulu, terlebih lagi kita kerucutkan serangan ulat bulu di Jakarta.

Serangan ulat bulu di Jakarta sepanjang 2020-2025 memang terjadi beberapa kali, terutama di kawasan yang memiliki lahan kosong atau vegetasi lebat. Berikut rangkuman dari media-media di internet yang saya kumpulkan :

Lokasi Utama Serangan (2020 - 2025)

  • Kemanggisan, Jakarta Barat (Juni 2025): Kasus yang paling baru dan cukup masif. Ulat bulu menyerang area pertokoan dan kos-kosan di Jalan Kemanggisan Raya. Ratusan ulat merayap di tembok, bergelantungan di kabel, hingga masuk ke dalam ruko.
  • Tebet, Jakarta Selatan (Oktober 2024): Serangan terjadi di pemukiman warga Jalan Masjid Al-Muttaqien, Manggarai Selatan. Suku Dinas KPKP turun tangan melakukan penyemprotan insektisida karena ulat sangat mengganggu warga.
  • Koja, Jakarta Utara (Januari 2024): Hama ulat bulu ditemukan di area RPTRA Rasela. Petugas melakukan langkah preventif agar pengunjung (terutama anak-anak) tidak terkena sengatan yang menyebabkan gatal.
  • Duri Kosambi & Cengkareng (November 2021): Ulat bulu berasal dari lahan kosong dan masuk ke rumah-rumah warga selama berhari-hari sebelum akhirnya dievakuasi oleh petugas Damkar.
  • Duren Sawit & Pondok Bambu, Jakarta Timur (2020 - 2021): Terjadi di pemukiman warga saat memasuki musim penghujan. Laporan menyebutkan ulat menempel di dinding hingga plafon rumah.

Berdasarkan laporan kejadian di Jakarta antara tahun 2020 hingga akhir 2025, jenis ulat bulu yang menyerang pemukiman umumnya berasal dari keluarga Lymantriidae.

Meskipun identifikasi spesies secara spesifik memerlukan identifikasi lebih lanjut, setiap kali kejadian, para ahli dan pihak Dinas KPKP DKI Jakarta sering mengidentifikasi beberapa jenis berikut sebagai "pelaku" utama serangan di wilayah perkotaan yaitu jenis Arctornis submarginata dan Lymantria marginata. Kedua jenis ini adalah ulat dari ngengat bukan kupu-kupu, Dimana kedua jenis ini memiliki bulu yang sangat lebat di tubuhnya.

Ledakan populasi ulat di Jakarta dipicu oleh anomali cuaca berupa perubahan musim yang ekstrem dan musim hujan berkepanjangan yang menciptakan kondisi lembap sehingga mendukung penetasan telur, diperparah oleh minimnya predator alami seperti burung pemangsa ulat yang membuat siklus hidupnya tidak terkendali, serta keberadaan lahan kosong yang tidak terawat, ditumbuhi tanaman liar atau pohon yang jarang dipangkas, sehingga menjadi habitat ideal bagi ulat untuk berkembang.

Secara alami, ledakan populasi ulat bulu seharusnya bisa diredam oleh burung-burung pemakan serangga (insectivorous birds). Ketika jumlah burung predator berkurang, siklus hidup ulat bulu menjadi tidak terkendali. Tanpa burung yang memakan larva, hampir 80–90% telur ulat yang menetas berhasil tumbuh menjadi ulat dewasa. Tanpa "rem" alami dari burung, setiap kali terjadi anomali cuaca (seperti kelembapan tinggi), ulat-ulat ini akan meledak populasinya (outbreak) secara masif di wilayah perkotaan seperti yang terjadi di Kemanggisan atau Jakarta Barat.

Nah menariknya nih tidak semua burung bisa memakan Arctornis atau Lymantria. Bulu-bulu halus pada ulat ini bukan hanya menyebabkan gatal pada manusia, tapi juga merupakan mekanisme pertahanan terhadap burung. Hanya burung-burung tertentu dengan sistem pencernaan khusus atau teknik berburu tertentu yang berani memangsa ulat berbulu lebat dan jika burung-burung spesialis ini hilang, maka ulat jenis ini akan mendominasi pohon-pohon di Jakarta tanpa ada yang mengganggu.

Kira-kira jenis burung apa yang menjadi specialist pemakan ulat bulu ini? bagaimana keberadaan mereka di Jakarta … nantikan di tulisan berikutnya

Sunday, January 11, 2026

Kenapa Kota Butuh Burung? Part 1

 


Burung bukan sekadar penghias langit kota. Mereka adalah komponen penting ekosistem perkotaan yang berkontribusi langsung pada kualitas lingkungan dan kehidupan manusia.

Disatu sisi kota butuh burung karena mereka bukan sekadar "tamu" yang bikin ramai atau kotor trotoar, tapi pekerja ekologis yang sangat penting buat menjaga keseimbangan lingkungan di tengah kota yang penuh beton dan asap.

Burung bukan sekadar "penghias" langit kota; mereka memiliki peran krusial dalam menjaga keseimbangan ekosistem urban yang seringkali rapuh. Tanpa burung, kualitas hidup manusia di perkotaan bisa menurun secara signifikan.

Salah satu fungsi utama burung di kota adalah sebagai pengendali hama.

Banyak burung memakan serangga, nyamuk, dan organisme pengganggu lain. Ini membantu menekan populasi hama tanpa pestisida, sehingga lebih aman bagi manusia dan lingkungan.

Contoh kasus di kota Jakarta Burung-burung seperti burung Kerak kerbau, Cipoh kacat, Cucak kutilang, atau Remetuk laut memakan ribuan serangga setiap harinya — ulat, kutu daun, nyamuk, lalat, belalang, dll. Di taman kota, pekarangan, atau pinggir jalan yang ada tanaman.

Point pengendali hama alami serangga oleh burung di kota adalah salah satu jasa ekosistem paling murah dan efektif yang sering kita abaikan. Burung bertindak sebagai predator alami yang mengurangi populasi serangga hama tanpa perlu pestisida kimia, GRATIS.

Pengendalian oleh burung tidak meninggalkan zat kimia di udara atau tanah yang bisa membahayakan kesehatan warga atau hewan peliharaan, kota tidak perlu mengeluarkan anggaran besar untuk penyemprotan (fogging) jika ekosistem burung lokal terjaga dengan baik.

Sebagai contoh Burung Walet dan layang-layang, mereka adalah pemburu udara yang luar biasa. Seekor burung walet dan layang-layang dapat memakan ratusan hingga ribuan serangga kecil (seperti nyamuk, lalat, dan rayap) dalam satu hari sambil terbang.

Lalu ada Burung Gereja, tekukur biasa dan perkutut Jawa, Meskipun kita sering melihat mereka memakan biji-bijian, saat musim berbiak, mereka akan berburu ulat dan serangga kecil secara intensif untuk memberi makan anak-anak mereka yang membutuhkan protein tinggi.

Serangga yang dianggap hama di kota sering kali menjadi vektor (pembawa) penyakit bagi manusia, contohnya nyamuk. Dengan adanya burung yang aktif di sore atau pagi hari membantu mengurangi jumlah nyamuk yang bisa menyebarkan DBD, Malaria, atau virus Zika.

Jadi sebuah kota membutuhkan burung karena mereka menjaga fungsi ekologis, meningkatkan kualitas hidup manusia, dan menjadi indikator penting keberlanjutan lingkungan perkotaan. Tanpa burung, kota menjadi lebih bising, panas, tidak seimbang, dan miskin makna ekologis.

Lalu menurutmu apakah burung tidak layak untuk hidup di kota ... ?

Katumpangan: Gulma Kecil di Sekitar Rumah yang Menyimpan Cerita Besar

  Di sela pot, tembok lembap, pinggir jalan kecil, atau sudut halaman yang jarang diperhatikan, sering tumbuh herba mungil dengan daun sang...