Di balik deru klakson dan belantara gedung pencakar langit, Jakarta diam-diam sedang kehilangan salah satu simfoni tertuanya: kicauan burung liar. Jika kita memutar waktu ke tahun 1937, langit ibu kota masih riuh oleh kepakan sayap 256 jenis burung. Namun, seiring berjalannya waktu, bentang alam pesisir, rawa, dan kebun perlahan berganti menjadi lautan aspal dan beton.
Dampaknya sangat nyata; dalam pengamatan di berbagai ruang
terbuka hijau (RTH) Jakarta hingga tahun-tahun terakhir (sekitar 2010–2019),
jumlah spesies burung liar tercatat menurun drastis menjadi sekitar 129 hingga
162 spesies (data Jakarta Birdwatcher's Society dan pengamatan komunitas). Data
lebih baru dari pengamatan komunitas seperti WildJak (2025–2026) bahkan
mencatat hingga 120 spesies di area tertentu, sementara sensus burung air di
pesisir utara (AWC 2026) menemukan 99 jenis burung di tiga kawasan pesisir,
termasuk Suaka Margasatwa Muara Angke, Hutan Lindung Angke Kapuk dan Taman
Wisata Alam Angke Kapuk.
Pertanyaannya, dengan sisa lahan hijau yang terus menyusut
hingga di bawah 10% (persentase RTH efektif Jakarta sekitar 5,3–6,5% per 2026),
siapa yang berhasil bertahan, dan siapa yang perlahan raib dari pandangan kita?
Pemenang di Tengah Bisingnya Kota
Alam memiliki cara seleksi yang keras. Di Jakarta, burung yang mampu beradaptasi dengan ekstremnya urban sprawl adalah pemenangnya. Kelompok burung pemakan serangga (insektivora) mendominasi lebih dari sepertiga populasi burung di ibu kota. Spesifiknya, burung-burung kecil yang lincah berburu serangga di tajuk dan ranting pohon berhasil menguasai wilayah ini. Mengapa? Karena serangga kecil di kanopi pohon relatif tidak terpengaruh oleh masifnya pembangunan di bawahnya. Mereka adalah penyintas sejati yang mengubah setiap pucuk pohon peneduh jalan menjadi meja makan mereka.Mereka yang Terusir dari Rumahnya
Sayangnya, nasib baik tidak berpihak pada semua penghuni udara. Mari kita lihat burung pelatuk. Spesies pemakan serangga yang hidup dengan cara melubangi batang kayu ini kini berada di ujung tanduk—data historis menunjukkan penurunan signifikan, dan di Jakarta hanya tersisa sedikit jenis yang bertahan (pengamatan komunitas sering menyebut hanya dua jenis utama yang masih terpantau secara konsisten, meski angka pasti fluktuatif karena habitat pohon besar semakin langka). Relung ekologi mereka lenyap seketika ketika pohon-pohon mati di taman kota rutin ditebang untuk alasan estetika dan keamanan, menghapus sumber makanan alami mereka.Nasib serupa dialami oleh para penguasa rantai makanan:
burung pemangsa (raptor). Terdesak oleh sempitnya ruang berburu dan hilangnya
tajuk pohon raksasa untuk bersarang, elang dan kerabatnya kini hanya mencakup
sekitar 8% dari total komunitas burung di Jakarta (estimasi dari pengamatan
lama yang masih relevan, karena data raptor urban tetap rendah akibat tekanan
habitat).
Krisis Layanan Lingkungan: Tukang Kebun yang Terlupakan
Kehilangan burung bukan hanya sekadar hilangnya warna-warni di langit, melainkan terhentinya "jasa tukang kebun" gratis bagi bumi. Burung pemakan nektar (polinator) dan pemakan buah (penyebar biji) semakin sulit dijumpai, persentasenya menyusut drastis. Mereka kesulitan menemukan pohon berbuah kecil atau bunga yang mekar sepanjang tahun di taman-taman buatan manusia. Padahal, tanpa kehadiran mereka, regenerasi alami koridor hijau di Jakarta akan berhenti total. Tumbuhan seperti beringin atau kersen sangat mengandalkan kepakan sayap mereka untuk menyebar.Suaka Terakhir di Pesisir Utara
Kini, pertahanan terakhir bagi keanekaragaman hayati itu berada di bentang pesisir Suaka Margasatwa Muara Angke (SMMA) dan sekitarnya. Kawasan lahan basah ini ibarat bahtera Nuh bagi burung-burungnya. Dalam sensus Asian Waterbird Census (AWC) 2026, di SMMA tercatat 27 jenis burung (dengan 13 jenis burung air), sementara total di tiga kawasan pesisir Jakarta mencapai 99 jenis. Kawasan ini menjadi rumah terakhir bagi burung endemik Jawa yang terancam punah, seperti Bubut Jawa dan Jalak Putih. Jika tata ruang kota masa depan ikut merambah sisa lahan basah ini, kisah mereka di Jakarta akan benar-benar tamat.Mengabadikan Jejak yang Tersisa
Kenyataan ekologis ini adalah sebuah teguran keras, sekaligus panggilan untuk bertindak. Sebelum spesies-spesies ini hanya menjadi nama dalam buku sejarah, ada urgensi untuk mendokumentasikannya ke dalam karya yang memikat mata dan menyentuh kesadaran publik.Penambahan RTH seperti Taman Bendera Pusaka (dengan elemen
ekologis resapan air dan biodiversitas) memang membantu, tapi tanpa restorasi
habitat yang lebih luas—termasuk pelestarian pohon besar, koridor hijau, dan
perlindungan lahan basah—penurunan biodiversitas burung akan terus berlanjut. Dalam
tulisan ini mengingatkan saya dan juga kita bahwa RTH bukan hanya soal estetika
atau rekreasi, tapi juga tentang menjaga "simfoni" alam yang tersisa
di hutan beton Jakarta.

No comments:
Post a Comment