Tuesday, April 4, 2017

Keluarga Tumbuhan Pemangsa Namun Vegetarian


Nepenthes ampullaria, merupakan salah satu jenis kantong semar yang ada di Indonesia, namun jenis N. ampullaria tidak memiliki kedekatan dengan spesies lain dalam marga Nepenthes. Periuk monyet adalah nama lokal dari N. ampullaria, karena jenis ini pada musim kemarau sering digunakan monyet untuk minum.

N. ampullaria di Indonesia dapat ditemukan di Sumatera, Kalimantan, Kepulauan Maluku dan Papua. N. ampullaria biasanya hidup di tempat yang lembap, hutan teduh sampai ketinggian 2.100 meter di atas permukaan laut.


Di Kalimantan, biasanya hidup di tanah yang datar seperti di hutan kerangas, hutan rawa gambut, dan hutan rawa yang terdegradasi, di ketinggian 0 sampai 1.000 meter. Sedangkan di Sumatera, N. ampullaria tumbuh sampai di ketinggian 1.100 meter pada tanah datar seperti di hutan yang hangat, padang rumput, belukar, hutan rawa gambut, hutan rawa yang terdegradasi, sampai di sawah padi.

Batang dari N. ampullaria berwarna coklat dan bisa tumbuh sampai 15 meter. Daunnya berwarna hijau, panjang 25 cm, dan lebar 6 cm. Kantong dihasilkan pada ujung daun dan sulur tidak lebih panjang dari 15 cm. Kantung bawah berukuran kecil, jarang bisa melebihi 10 cm dan tinggi 7 cm. Kantung atas jarang dihasilkan, biasanya ukurannya lebih kecil dari kantung bawah. Warna kantung bervariasi, mulai dari hijau polos sampai merah tua dan banyak kombinasi lain yang ditemukan.

N. ampullaria paling mudah dibedakan dengan jenis Nepenthes lainnya karena keunikannya. salah satu keunikannya adalah kemampuan menghasilkan “kelompok kantung” yaitu segerombolan kantong-kantong tanpa daun yang tumbuh pada batang tegak atau di atas tanah hingga menyerupai karpet tebal di lantai hutan atau di rawa-rawa.



N. ampullaria juga dikenal sebagai satu-satunya spesies kantong semar yang “vegetarian”, dikarenakan kantong tanaman ini tidak memiliki kelenjar nektar pada bibir kantong sehingga jarang ada serangga yang terjebak dalam kantong. Umumnya sebagian besar benda-benda yang ditemukan dalam kantong adalah dedaunan yang membusuk, kotoran hewan, ranting-ranting kecil dan air hujan. Jadi, kantong semar ini sangat berguna sebagai alternatif air minum ketika sedang tersesat atau “survival”.

Di kalangan hobiis tanaman, jenis ini banyak di silangkan dengan jenis Nepenthes lain sehingga menghasilkan beberapa varian baru. Jenis ini juga dimanfaatkan sebagai obat sakit mata dan obat sakit perut.


Wednesday, March 29, 2017

Mengabadikan Para Penghuni Malam Ranca Upas


“toeeeeeeeeeettt ... toeeeeeeeeeeettt ... suara tongeret, mulai bergema menandakan malam sebentar lagi akan tiba. Beberapa rekan-rekan pegiat Wildlife Photography mulai berkumpul di tenda setelah lelah seharian berburu burung Luntur Jawa (Apalharpactes reinwardtii) yang merupakan maskot bagi para fotografer wildlife jika berkunjung ke Ranca Upas.

Ranca Upas atau Kampung Cai Ranca Upas adalah salah satu bumi perkemahan di Bandung, Jawa Barat, Indonesia. Terletak di Jalan Raya Ciwidey Patenggang KM. 11, Alam Endah, Ciwidey Kabupaten Bandung, Jawa Barat dengan jarak sekitar 50 km dari pusat Kota Bandung. Ranca Upas adalah salah satu spot menarik bagi kalangan pemotret wildlife karena wilayah ini termasuk ke dalam kawasan Important Bird Area (IBA) dimana disini para pemotret akan dimanjakan dengan kehadiran burung endemik jawa dan terancam punah seperti Luntur Jawa, Puyuh Gonggong Jawa, Kipasan ekor Merah dan lainnya.

Para pegiat wildlife photography mengabadikan burung di Ranca Upas

Perkemahan Ranca Upas Memiliki luas area sekitar 215 Hektar, berada pada 1700 meter di atas permukaan laut, dengan suhu udara sekitar 17°C - 20°C. Dengan kawasan Perhutani yang mengelilinginya. Ranca Upas sendiri sejarahnya merupakan daerah rawa yang banyak tumbuh pohon Upas (Antiaris toxicaria) yakni pohon yang memiliki getah yang sangat beracun yang dahulu racunnya dipergunakan dalam anak panah untuk berburu.

Hari pun semakin gelap, teman-teman fotografer pun semakin akrab bercengkrama di depan api unggun. Tanpa menyia-nyiakan waktu di tempat yang indah ini, saya dan teman dari Balikpapan akhirnya menyusuri jalan hutan dengan tujuan mencari hewan-hewan yang beraktifitas di malam hari, terutama amfibi dan reptil atau yang lebih dikenal dengan sebutan hewan herpetofauna

Lampu dari senter pun menyala terang, kami amati kanan dan kiri jalan setapak, tak lama di depan kami nampak pantulan mata berwarna merah, bergegas menuju ke arah yang disorot lampu senter dan kami menemukan Green-lesser Agamid (Pseudocalotes tympanistriga) atau biasa disebut Kadal mimikri. Kadal ini nampak sedang tidur, karena jenis ini dan bunglon kerabatnya adalah reptile yang aktif di siang hari bukan di malam hari. Kami menemukan ada 4 individu yang tak jauh jaraknya sedang beristirahat di tumbuhan paku.

Kadal Mimikri sedang tertidur di daun tumbuhan paku
Perjalanan kami lanjutkan ke arah sungai, sesaat ketika melewati daerah yang terbuka dengan banyak serasah daun, saya melihat ada sesuatu kecil sedang melompat-lompat. Segera saya hampiri dan wow saya menemukan Bangkong serasah (Leptobrachium haseltii), terakhir saya menemukan jenis ini di daerah Bodogol, Taman Nasional Gede Pangrango. Katak yang bagus sekali coraknya menurut saya, sehingga langsung saya abadikan dengan kamera.

Bangkong serasah diantara serasah-serasah hutan
Dari arah sungai saya mendengar suara khas yang saya kenal betul, dan yup banyak sekali individu Katak pohon jawa (Rhacoporus margaritifer) yang sedang bertengger dan sesekali mengeluarkan suara khasnya. Katak pohon ini merupakan katak pohon yang hanya dapat dijumpai di pulau Jawa. Umum ditemukan di aeral terbuka dekat hutan hingga di hutan namun berada dekat sungai. Terlihat juga di kejauhan si Kongkang kolam (Hylarana chalconota), namun tidak sempat terfoto karena jarak yang terlalu jauh.

Katak pohon Jawa, bertengger di pohon yang tak jauh dari sungai
Kami tidak terlalu lama melakukan hunting malam, dikarenakan perut yang sudah terasa lapar dan kami memutuskan kembali ke tenda, untuk saling bercerita dengan rekan-rekan pegiat wildlife photography yang lain. Menariknya dalam perjalan pulang kami menemukan Percil Jawa (Microhyla achatina) yang selalu bersembunyi, namun katak ini selalu mengeluarkan suara yang keras dan tambahan esok paginya ketika sedang hunting burung, saya menemukan Katak pohon emas (Philautus aurifasciatus) yang sedang beristirahat di pohon kecil.

Percil jawa, si kecil yang bersuara besar

Katak pohon emas yang sedang asyik bertengger
Jadi Ranca Upas menurut saya untuk objek wildlife photography, tidak hanya menarik dari sisi burungnya namun juga keanekaragaman lainnya seperti reptil dan amfibi ... so selamat hunting

Friday, January 31, 2014

Suara Katak Berbunyi ... Pertanda Hujan Turun



“Peeeeeng” ... suara nyaring dari sesosok hewan terdengar membahana di hutan hujan bukit limun desa Temalang, Kabupaten Sarolangun, Jambi.
“wah ... ayo bergegas jalannya, kataknya dah bersuara, tandanya bentar lagi hujan” seru Andri salah satu rekanku di FFI-IP bagian survei herpetofauna.
“eh itu suara si Megophrys nasuta ndri? Tanyaku
“yup itu suara dia” balas Andri

Megophrys nasuta atau dalam bahasa Inggris disebut The Long-nosed Horned Frog, sayangnya belum ada namanya dalam bahasa Indonesia, tetapi ku biasa memanggilnya Katak bertanduk hidung pinokio he he he ....

Ku sendiri sangat rindu untuk bertemu si hidung pinokio ini. Pertama kali bertemu jenis ini sewaktu ku survei di area PT SJM di Kalimantan Barat tahun 2007, ku sangat terpesona sekali dengan wujudnya. Katak ini memiliki kelopak mata dan hidung yang  panjang, sangat panjang dibandingkan dengan sepupunya yang biasa ku temui di Pulau Jawa yaitu Megophrys montana. Maka ketika bertemu katak ini lagi di bulan Desember 2013 tak ku sia-sia kan untuk memotret katak ini.

M. Nasuta, tersebar mulai dari Thailand, Malaysia, Singapura hingga pulau Sumatera dan Kalimantan. Habitatnya mulai dari hutan dataran rendah yang lembab hingga hutan sub montana.  Warna dari katak ini coklat terang hingga coklat gelap, menyerupai lantai hutan dan panjang katak ini bisa mencapai 10 – 12 cm.

Dalam hal berburu katak ini merupakan ahlinya penyamaran, berdiam diri dilantai hutan dengan ditutupi beberapa daun-daun, penyamarannya benar-benar sempurna. Mangsa yang lewat pun tidak curiga ... lalu hap!! Tertangkaplah laba-laba, kadal, katak dan tikus kecil yang menjadi mangsanya.

Dari perjalanan ku di Jambi beberapa waktu lalu, yang menarik adalah ketika katak ini sudah bersuara maka sebentar lagi hujan akan turun. Walaupun belum dibuktikan secara ilmiah namun dari pengalaman kemarin, setelah katak ini berbunyi, hujan kemudian turun. Setidaknya suara katak ini bisa dijadikan acuan ketika berada di dalam hutan sebagai tanda-tanda bahwa hujan akan datang he he he
 
Status katak ini di IUCN masih sebatas Least Concern, atau belum menjadi prioritas karena masih banyaknya populasi katak ini di alam, namun di beberapa forum pemelihara hewan amfibi, katak ini mulai diperjual belikan dengan harga sekitar Rp. 350.000 – Rp. 450.000, dikhawatirkan jika pengambilan jumlah besar populasi katak ini di alam, maka katak ini perlahan akan punah. Di tambah secara langsung hutan yang menjadi habitat katak ini rentan berubah fungsinya .... T-T


Thursday, December 6, 2012

Menariknya Dunia Serangga

Alam Indonesia yang sangat beranekaragam, mulai dari dasar laut hingga puncak pegunungan menyimpan beribu-ribu keanekaragaman hayati ... mulai dari yang terkecil seperti golongan serangga hingga terbesar dari golongan mamalia seperti Gajah Sumatera dan Paus Biru. Semuanya sangat menarik untuk dipelajari dan diperhatikan.

Untuk dunia Serangga ... ternyata jika kita perhatikan lebih detail, ternyata juga sangat menarik. mungkin karena bentuknya yang kecil. kita tidak terlalu memperhatikannya, namun jika kita potret dan kita zoom maka wow ... anda akan tercengang ... Subhanallah ... Allahu Akbar ...






Sunday, August 5, 2012

Burung Besar Penghuni Muara Angke

Burung Cangak abu (Ardea cinerea) dan Kuntul besar (Egretta alba) merupakan 2 jenis burung yang berukuran besar (92 - 95 cm) dan masih sangat mudah untuk ditemukan di Muara Angke, Jakarta Utara.

Pola hidup mereka di Muara Angke, beradaptasi dengan keadaan yang sangat ekstrim, dimana pencemaran air yang tinggi terjadi di Kali Angke, sehingga membuat jenis-jenis ikan mati, akhirnya demi bertahan hidup burung-burung besar ini mendapatkan makan dengan mengais-ngais ikan yang telah mati.


Sunday, May 20, 2012

Katak Pohon Asli Jawa

Katak pohon Jawa (Rhacophorus margaritifer) Javan Tree Frog atau dikenal oleh orang Sunda di daerah Taman Nasional Gunung Halimun Salak sebagai Cehai Pohon merupakan salah satu jenis katak endemik yang ada di Indonesia. keberadaannya katak ini hanya ada di pulau Jawa.

Katak pohon Jawa diketahui lebih banyak memakan serangga dari bangsa Orthoptera seperti belalang dan seperti kebanyakan hewan amfibi lainnya, air dan tanaman menjadi faktor penting dalam kehidupan Katak pohon Jawa. Katak ini dapat ditemukan mulai 250 hingga 1700 mdpl. Sering dijumpai di semak-semak dekat kolam atau sungai ber-arus lambat di dalam hutan primer.

Akibat semakin rusaknya hutan di Pulau Jawa di beberapa daerah seperti di puncak, bogor Katak ini ditemukan berdekatan dengan areal aktifitas manusia seperti di perkebunan teh maupun perkebunan masyarakat.  

Sunday, February 26, 2012

Pernahkan teman-teman melihat Ikan Glodok?

Ikan Glodok adalah ikan yang aneh, bisa hidup di air dan dilumpur. Orang jakarta bilang namanya Ikan boso atau ikan jorok. Namun sangat di cari di Jepang untuk dimakan, karena sangat baik untuk kesehatan terutama janin ibu hamil dan peningkat tenaga lelaki. Gelodok, belodok, belodog atau blodog adalah sekelompok ikan dari beberapa marga yang termasuk ke dalam suku Gobidae, anak suku Oxudercinae. Ikan-ikan ini senang melompat-lompat ke daratan, terutama di daerah berlumpur atau berair dangkal di sekitar hutan mangrove ketika air surut. Nama-nama lainnya adalah tembakul, tempakul, timpakul atau belacak (bahasa Melayu), gabus laut, lunjat dan lain-lain. Dalam bahasa Inggris disebut mudskipper, karena kebiasaannya melompat-lompat di lumpur itu, bisa dikatakan juga ikan ini merupakan gambaran peralihan ikan ke amfibi. Kehadiran mereka sudah dari 22,5 juta tahun yang lalu dan bertahan hingga sekarang … woooowww.

Tampang ikan ini sangatlah khas. Kedua matanya menonjol di atas kepala seperti mata kodok, wajah yang dempak, dan sirip-sirip punggung yang terkembang menawan. Badannya bulat panjang seperti torpedo, sementara sirip ekornya membulat. Panjang tubuh bervariasi mulai dari beberapa sentimeter hingga mendekati 30 cm. Keahlian yang dimiliki ikan yang satu ini, selain dapat bertahan hidup lama di daratan (90% waktunya dihabiskan di darat), ikan gelodok dapat memanjat akar-akar pohon bakau, melompat jauh, dan ‘berjalan’ di atas lumpur. Sebenarnya kaki yang dimiliki ikan glodok ini adalah sirip dadanya yang telah mengalami adaptasi, sehingga menjadi kuat, dan bisa digunakan untuk berjalan di lumpur mangrove. Pangkal sirip dadanya berotot kuat, sehingga sirip ini dapat ditekuk dan berfungsi seperti lengan untuk merayap, merangkak dan melompat.

Daya bertahan di daratan ini didukung pula oleh kemampuannya bernafas melalui kulit tubuhnya dan lapisan selaput lendir di mulut dan kerongkongannya, yang hanya bisa terlaksana dalam keadaan lembab. Oleh sebab itu gelodok setiap beberapa saat perlu mencelupkan diri ke air untuk membasahi tubuhnya. Ikan gelodok Periophthalmus koelreuteri setiap kalinya bisa bertahan sampai 7-8 menit di darat, sebelum masuk lagi ke air. Di samping itu, gelodok juga menyimpan sejumlah air di rongga insangnya yang membesar, yang memungkinkan insang untuk selalu terendam dan berfungsi selagi ikan itu berjalan-jalan di daratan.

Yang menarik ketika berenang, kedua mata ikan glodok ini tetap muncul di permukaan mirip periskop kapal selam dan kedua matanya mampu bergerak secara independent, jadi yang satu bisa melihat ke kiri dan yang lainnya bisa melihat ke kanan pada saat bersamaan. Selain itu, juga karena berada di luar rongga kepala, mata yang mereka miliki mampu melihat ke segala arah alias dapat berputar 360 derajat.

Hidup di wilayah pasang surut, gelodok biasa menggali lubang di lumpur yang lunak untuk sarangnya. Lubang ini bisa sangat dalam dan bercabang-cabang, berisi air dan sedikit udara di ruang-ruang tertentu. Ketika air pasang naik, gelodok umumnya bersembunyi dilubang-lubang ini untuk menghindari ikan-ikan pemangsa yang berdatangan. Ikan jantan memiliki semacam alat kopulasi pada kelaminnya. Setelah perkawinan, telur-telur ikan gelodok disimpan dalam lubangnya itu dan dijaga oleh induk betinanya. Telur-telur itu lengket dan melekat pada dinding lumpur.

Ikan gelodok hanya dijumpai di pantai-pantai beriklim tropis dan subtropis di wilayah Indo-Pasifik sampai ke pantai Atlantik Benua Afrika. Ikan ini termasuk ikan yang paling tahan terhadap kerusakan lingkungan hidup dan dapat tetap hidup dalam kondisi yang “memprihatinkan” sekalipun.

Di Indonesia, ikan glodok ditemukan oleh Harden Berg pada tahun 1935 di Sumatera dan Kalimantan deari jenis Periophtalmus sp dan sekarang telah tersebar luas di sepanjang pantai utara jawa, segara anakan cilacap dan nusakambangan, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara dan Maluku. Saat ini telah teridentifikasi sebanyak 35 spesies ikan gelodok di Indonesia. Terbagi menjadi tiga kelompok besar, yaitu Boleophthalmus, Periophthalmus dan Periophthalmodon, sedangkan di Jakarta sendiri saat ini hanya ditemukan 2 jenis yaitu Boleophthalmus boddarti dan Periophthalmus chrysospilos. Mereka dapat di temukan di Taman Wisata Alam Angke Kapuk hingga ke Hutan Lindung Angke Kapuk dan hidup diantara tumpukan sampah dan bahan pencemar lain yang menumpuk di muara Jakarta. Ayo kita cari ikan menarik ini