Wednesday, February 25, 2026

Kucing Busok: Si Leopard Mini dari Pulau Raas Madura


Halo, pecinta kucing! Pernah dengar tentang Kucing Busok? Bukan kucing yang bau busuk seperti namanya terdengar, tapi ras kucing asli Indonesia yang super unik dan langka. Kucing ini sering disebut sebagai "Leopard dari Pulau Raas" karena penampilannya yang gagah dan misterius. Berasal dari Pulau Raas di Madura, Jawa Timur, Kucing Busok adalah harta karun endemik yang hanya ada di sana. Bayangkan, populasi murninya diperkirakan kurang dari 100 ekor pada 2016, membuatnya lebih langka dari banyak ras internasional. Yuk, kita bahas lebih dalam tentang keunikan, habitat, perbedaan dengan ras lain, dan sejarah bagaimana ras ini "terpisah" dari dunia luar.

Mari mulai dari sejarahnya. Asal-usul Kucing Busok masih diselimuti misteri, tapi menurut masyarakat setempat, ras ini terbentuk secara alami melalui perkawinan antara kucing lokal Pulau Raas dengan "Kucing Pitua" yang legendaris—konon bertanduk dan mistis. Pulau Raas, yang terisolasi di Laut Jawa, membuat evolusi kucing ini berjalan mandiri tanpa campur tangan ras luar. 
Pada masa lampau, Kucing Busok jadi ikon mistis di Madura, dipercaya membawa keberuntungan dan bahkan dipelihara oleh para bangsawan. Penduduk Raas sangat melindungi mereka, melarang dibawa keluar pulau untuk menjaga kemurnian gen. Akibatnya, ras ini "terpisah" dari dunia luar selama berabad-abad, menghindari persilangan dengan kucing domestik lain. Baru pada 2018, asosiasi seperti IBRA (Indonesian Busok Raas Association) dibentuk untuk melestarikan dan memperkenalkannya ke dunia, hingga akhirnya diakui oleh World Cat Federation (WCF). Isolasi ini mirip dengan bagaimana spesies endemik seperti komodo berkembang di pulau terpencil, tapi untuk kucing, ini bikin Busok punya variasi genetika tinggi yang unik.
Habitatnya? Pulau Raas adalah surga karang seluas 39 km persegi, dikelilingi laut biru dan pantai berbatu. Di sini, Kucing Busok hidup bebas di antara rumah penduduk, hutan mangrove, dan ladang. Iklim tropis Madura membuat mereka adaptif terhadap panas dan kelembapan tinggi. Mereka bukan kucing rumahan biasa; sering berburu tikus atau ikan kecil, menunjukkan naluri liarnya. Penduduk setempat memperlakukan mereka seperti anggota keluarga, memberi makan ikan segar dan melindungi dari ancaman luar. Sayangnya, ancaman seperti perkawinan silang dengan kucing liar dari luar pulau membuat populasi murni semakin menurun. Penelitian menegaskan, Busok memang endemik Raas—tak ditemukan di daerah lain, membuktikan isolasi geografis pulau ini jadi kunci kelangsungan mereka.
Nah, keunikannya apa saja? Pertama, penampilan: Bulu pendek halus berwarna abu-abu kebiruan (blue), hitam, cokelat, atau lilac, tanpa corak lain—mirip British Shorthair tapi lebih atletis. Tubuhnya sedang tapi kokoh, berotot, dengan kepala persegi atas dan dagu lancip, telinga runcing mencuat ke atas, dan hidung sedang. Yang ikonik: Ekor pendek atau bahkan tak ada, sering bengkok seperti bobtail Jepang. Suaranya nyaring dan dalam, vokal banget! Mereka aktif, setia pada pemilik, dan punya mitos bawa hoki—konon bisa mengusir roh jahat. Berbeda dari ras lain, Busok punya telinga memanjang ke depan, membuatnya tampak lebih "liar" daripada kucing Persia yang fluffy atau Siamese yang ramping.
Apa yang membedakan Busok dengan ras kucing lain? Banyak ras seperti Maine Coon besar dan berbulu panjang, sementara Busok kompak tapi kuat, mirip leopard mini tanpa pola tutul. Tak seperti kucing kampung biasa yang acak gennya, Busok murni tanpa campuran, dengan variasi warna terbatas dan ekor unik. Bandingkan dengan British Shorthair: Busok lebih besar dari kucing kampung tapi tak sebulat itu, plus habitat isolasinya bikin genetikanya beda—tinggi variasi tapi langka. Ras seperti Sphynx tak berbulu, sementara Busok punya bulu halus anti-kotor. Intinya, Busok adalah bukti keanekaragaman alam Indonesia yang tak tergantikan.Kucing Busok bukan sekadar hewan peliharaan, tapi simbol budaya Madura. Dengan upaya pelestarian, semoga ras ini bisa bertahan. Kalau kamu ke Madura, coba lihat langsung ya! Siapa tahu, kamu jatuh cinta sama si abu-abu misterius ini.
"Kenalan yuk sama Abu si Kucing Busok! 😹 Kucing ras asli Indonesia dari Pulau Raas Madura yang super langka, sekarang hidup absurd di Jakarta lewat komik 4 panel ini. Dari panik lihat kecoak terbang sampe logika anehnya yang bikin ngakak! Tertawa bareng Abu yuk~ Komik digitalnya cuma Rp35.000 di http://lynk.id/adykristanto/r5mkdzl54148/checkout


Monday, January 12, 2026

Kenapa Kota Butuh Burung? Part 2

 


Kita renungkan kembali tulisan sebelumnya Dimana fungsi utama burung adalah sebagai pengendali hama (https://kucingbatu.blogspot.com/2026/01/kenapa-kota-butuh-burung-part-1.html).

Hama seperti apa yang dimaksud? Apakah ulat, lalat, nyamuk, kumbang dan lainnya, ok dalam tulisan ini akan saya jelaskan mengenai hama ulat bulu, terlebih lagi kita kerucutkan serangan ulat bulu di Jakarta.

Serangan ulat bulu di Jakarta sepanjang 2020-2025 memang terjadi beberapa kali, terutama di kawasan yang memiliki lahan kosong atau vegetasi lebat. Berikut rangkuman dari media-media di internet yang saya kumpulkan :

Lokasi Utama Serangan (2020 - 2025)

  • Kemanggisan, Jakarta Barat (Juni 2025): Kasus yang paling baru dan cukup masif. Ulat bulu menyerang area pertokoan dan kos-kosan di Jalan Kemanggisan Raya. Ratusan ulat merayap di tembok, bergelantungan di kabel, hingga masuk ke dalam ruko.
  • Tebet, Jakarta Selatan (Oktober 2024): Serangan terjadi di pemukiman warga Jalan Masjid Al-Muttaqien, Manggarai Selatan. Suku Dinas KPKP turun tangan melakukan penyemprotan insektisida karena ulat sangat mengganggu warga.
  • Koja, Jakarta Utara (Januari 2024): Hama ulat bulu ditemukan di area RPTRA Rasela. Petugas melakukan langkah preventif agar pengunjung (terutama anak-anak) tidak terkena sengatan yang menyebabkan gatal.
  • Duri Kosambi & Cengkareng (November 2021): Ulat bulu berasal dari lahan kosong dan masuk ke rumah-rumah warga selama berhari-hari sebelum akhirnya dievakuasi oleh petugas Damkar.
  • Duren Sawit & Pondok Bambu, Jakarta Timur (2020 - 2021): Terjadi di pemukiman warga saat memasuki musim penghujan. Laporan menyebutkan ulat menempel di dinding hingga plafon rumah.

Berdasarkan laporan kejadian di Jakarta antara tahun 2020 hingga akhir 2025, jenis ulat bulu yang menyerang pemukiman umumnya berasal dari keluarga Lymantriidae.

Meskipun identifikasi spesies secara spesifik memerlukan identifikasi lebih lanjut, setiap kali kejadian, para ahli dan pihak Dinas KPKP DKI Jakarta sering mengidentifikasi beberapa jenis berikut sebagai "pelaku" utama serangan di wilayah perkotaan yaitu jenis Arctornis submarginata dan Lymantria marginata. Kedua jenis ini adalah ulat dari ngengat bukan kupu-kupu, Dimana kedua jenis ini memiliki bulu yang sangat lebat di tubuhnya.

Ledakan populasi ulat di Jakarta dipicu oleh anomali cuaca berupa perubahan musim yang ekstrem dan musim hujan berkepanjangan yang menciptakan kondisi lembap sehingga mendukung penetasan telur, diperparah oleh minimnya predator alami seperti burung pemangsa ulat yang membuat siklus hidupnya tidak terkendali, serta keberadaan lahan kosong yang tidak terawat, ditumbuhi tanaman liar atau pohon yang jarang dipangkas, sehingga menjadi habitat ideal bagi ulat untuk berkembang.

Secara alami, ledakan populasi ulat bulu seharusnya bisa diredam oleh burung-burung pemakan serangga (insectivorous birds). Ketika jumlah burung predator berkurang, siklus hidup ulat bulu menjadi tidak terkendali. Tanpa burung yang memakan larva, hampir 80–90% telur ulat yang menetas berhasil tumbuh menjadi ulat dewasa. Tanpa "rem" alami dari burung, setiap kali terjadi anomali cuaca (seperti kelembapan tinggi), ulat-ulat ini akan meledak populasinya (outbreak) secara masif di wilayah perkotaan seperti yang terjadi di Kemanggisan atau Jakarta Barat.

Nah menariknya nih tidak semua burung bisa memakan Arctornis atau Lymantria. Bulu-bulu halus pada ulat ini bukan hanya menyebabkan gatal pada manusia, tapi juga merupakan mekanisme pertahanan terhadap burung. Hanya burung-burung tertentu dengan sistem pencernaan khusus atau teknik berburu tertentu yang berani memangsa ulat berbulu lebat dan jika burung-burung spesialis ini hilang, maka ulat jenis ini akan mendominasi pohon-pohon di Jakarta tanpa ada yang mengganggu.

Kira-kira jenis burung apa yang menjadi specialist pemakan ulat bulu ini? bagaimana keberadaan mereka di Jakarta … nantikan di tulisan berikutnya

Kucing Busok: Si Leopard Mini dari Pulau Raas Madura

Halo, pecinta kucing! Pernah dengar tentang Kucing Busok? Bukan kucing yang bau busuk seperti namanya terdengar, tapi ras kucing asli Indone...