Saat saya menelusuri tulisan, jurnal serta berita di
internet terkait satwa di sekitar Palestina dan Megafauna Nusantara, satu
pertanyaan selalu muncul di benak saya: mengapa “singa” begitu akrab di lidah
dan seni masyarakat Jawa, padahal hewan itu sendiri tidak pernah meninggalkan
jejak di tanah Nusantara?
Dari berbagai tulisan yang saya baca, mulai dari
prasasti-prasasti zaman Majapahit hingga laporan peneliti Belanda abad ke-19,
simbol singa muncul berulang kali sebagai lambang kekuasaan dan keberanian.
Kerajaan Singhasari di Jawa Timur (1222–1292 M) adalah contoh paling mencolok.
Nama “Singhasari” sendiri berasal dari bahasa Sanskerta: singha (singa)
dan sari (inti atau esensi). Raja-raja Singhasari, seperti Ken Arok dan
Kertanegara, memilih nama ini untuk menyatakan bahwa kerajaan mereka adalah
“inti singa” — simbol kekuatan tak terkalahkan. Saya menemukan dalam buku Pararaton
bahwa singa digambarkan sebagai makhluk suci yang membawa aura ilahi, meski
tidak pernah ada cerita bahwa singa hidup di hutan Jawa.
Lebih jauh lagi, patung-patung singa (arca singa) menjadi
penjaga hampir di setiap candi Hindu-Budha Jawa. Di Candi Prambanan, Borobudur,
dan situs-situs di Trowulan, arca singa berderet di tangga masuk, mulut
terbuka, mata melotot, seolah mengawal raja dan dewa. Pengaruh ini jelas datang
dari India, tempat singa Asia (Panthera leo persica) pernah menjadi
simbol kerajaan Maurya dan Gupta. Bahkan di seni pertunjukan, motif Singo
Barong atau Kereta Singa Barong di Cirebon masih hidup hingga kini — kereta
emas berukir kepala singa yang ditarik kerbau dalam pawai keraton. Semua ini
membuat saya bertanya-tanya: dari mana datangnya kekaguman ini jika singa tidak
pernah menginjakkan kaki di Jawa?
Perjalanan penjelajahan saya di internet kemudian membawa
saya ke Timur Tengah melalui dokumen dan berita-berita sejarah kuno. Di sana,
singa bukan sekadar simbol — ia adalah tetangga sehari-hari manusia. Dalam
catatan kerajaan Assyria (sekitar 900–600 SM), raja-raja seperti Ashurbanipal
memburu singa di padang rumput Mesopotamia dengan kereta perang. Relief-relief
di istana Nimrud dan Nineveh (Irak Utara) yang saya lihat dalam arsip foto-foto
museum British Museum menunjukkan singa-singa besar dikejar tombak dan panah.
Di Persia kuno (kekaisaran Achaemenid), singa menjadi lambang kekuasaan raja;
bahkan mata uang dan istana Persepolis dihiasi motif singa. Alkitab sendiri
menyebut singa berkali-kali — cerita Daniel di gua singa hanyalah satu contoh.
Para ahli yang saya kutip dari jurnal Mammalian Biology menyebutkan
bahwa singa Asia tersebar dari Yunani kuno hingga Iran dan India barat hingga
abad ke-19. Populasi terakhir di Irak dan Iran punah pada awal abad ke-20
akibat perburuan dan hilangnya habitat. Hanya tersisa satu kelompok kecil di
Gir Forest, India. Jadi singa memang pernah hidup dekat dengan peradaban
manusia di Timur Tengah, tapi mengapa tidak pernah menyeberang ke Nusantara?
Semakin dalam saya menggali, semakin jelas bahwa jawabannya
bukan karena “jarak terlalu jauh”, melainkan kombinasi geologi, habitat, dan
kompetisi predator yang kejam. Sekitar 100.000 hingga 40.000 tahun lalu, saat
Pleistosen akhir, permukaan laut turun hingga 120 meter. Sumatra, Jawa,
Kalimantan, dan Semenanjung Malaya menyatu menjadi daratan raksasa bernama
Paparan Sunda (Sundaland). Saya membaca laporan lengkap dari peneliti seperti
H. von Koenigswald dalam buku The Pleistocene Fauna of Java (1930-an), daratan
ini menjadi jembatan migrasi bagi megafauna Asia: Stegodon (gajah purba), badak
Jawa purba (Rhinoceros sondaicus fosil), kerbau liar, rusa raksasa, babi
hutan, dan tentu saja harimau.
Namun, dalam ratusan fosil yang ditemukan di situs-situs
seperti Trinil, Sangiran, dan Ngandong, tidak ada satu pun tulang singa. Tidak
ada tengkorak, tidak ada gigi, tidak ada jejak kaki di gua-gua kapur. Singa
memang mencapai India, tapi berhenti di sana. Mengapa? Saya menemukan jawaban
pertama dalam analisis paleoklimat yang diterbitkan Nature tahun
2010-an. Wilayah Asia Tenggara saat itu memang memiliki mosaik padang rumput
terbuka di beberapa bagian, tapi secara keseluruhan didominasi hutan tropis
lebat dan rawa-rawa. Singa adalah predator savana terbuka; mereka berburu
berkelompok, mengandalkan kecepatan dan penglihatan di ruang tanpa penghalang.
Di hutan rapat, strategi itu menjadi tidak efektif — mangsa bisa menghilang di
balik semak dalam sekejap.
Di sinilah harimau masuk. Dari berbagai tulisan evolusi yang
saya pelajari, garis keturunan harimau (Panthera tigris) sudah
berevolusi di Asia Timur dan Tenggara sejak 2 juta tahun lalu, jauh sebelum
singa mencapai India. Saat Paparan Sunda terbuka, harimau sudah siap menyambut.
Dan bukti paling spektakuler adalah Harimau Ngandong (Panthera tigris
soloensis). Fosil-fosilnya ditemukan pertama kali tahun 1930-an di
Ngandong, lembah Sungai Solo, Jawa Tengah — tepat di lokasi yang sama dengan
fosil manusia purba Homo erectus. Replikanya di Museum Sangiran ternyata besar
sekali. Rahangnya lebar, gigi taring sepanjang 10 cm, dan ukuran tengkorak
lebih besar daripada harimau Bengal modern, yang saat ini disebut harimau
terbesar di dunia.
Beberapa catatan yang saya kutip dari jurnal Journal of
Paleontology memperkirakan berat Harimau Ngandong mencapai 300–400 kg
rata-rata, dengan individu terbesar mungkin mencapai 470 kg — lebih berat
daripada singa Afrika jantan terbesar (sekitar 250 kg). Bayangkan: seekor
kucing raksasa yang bisa merobohkan kerbau dewasa sendirian. Harimau Ngandong
bukan hanya besar; ia sempurna beradaptasi dengan hutan. Cakarnya yang panjang
dan otot bahu yang kuat memungkinkan ia memanjat dan menyergap dari atas.
Strategi berburu soliter ini jauh lebih unggul di vegetasi rapat dibandingkan
gaya berkelompok singa.
Dalam catatan penelusuran saya, saya membandingkan kedua
predator ini secara detail. Singa berevolusi di Afrika timur sekitar 1,2 juta
tahun lalu, kemudian menyebar ke Eurasia melalui koridor padang rumput. Mereka
membutuhkan ruang terbuka untuk berlari 50–80 km/jam. Harimau, sebaliknya,
berevolusi di hutan-hutan Asia Tenggara dan Cina selatan. Mereka tidak perlu
kecepatan jarak jauh; mereka ahli menyamar, melompat 9–10 meter, dan membunuh
dengan gigitan leher yang mematahkan tulang belakang. Di ekosistem Jawa purba
yang berupa campuran padang rumput kecil dan hutan lebat, harimau langsung
mendominasi relung predator puncak. Singa yang datang dari barat melalui India
akan langsung bertemu kompetitor yang lebih adaptif, lebih kuat, dan sudah
menguasai mangsa yang sama: rusa, babi, dan gajah muda.
Ketika Zaman Es berakhir sekitar 12.000 tahun lalu,
permukaan laut naik, Paparan Sunda terpecah menjadi pulau-pulau, dan hutan
tropis semakin meluas. Banyak megafauna punah — termasuk Harimau Ngandong yang
membutuhkan mangsa besar. Saya menemukan dalam penelitian terbaru Quaternary
Science Reviews bahwa penurunan populasi mangsa besar dan perubahan iklim
menjadi penyebab utama. Namun garis keturunan harimau bertahan. Dari Harimau
Ngandong lahir subspesies yang lebih kecil dan lincah: Harimau Jawa (Panthera
tigris sondaica). Hewan ini menjadi raja Jawa hingga abad ke-20. Catatan
Belanda tahun 1800-an yang saya baca menyebutkan harimau Jawa masih berkeliaran
di hutan-hutan Banten dan Jawa Timur, berat 100–140 kg, tapi tetap mengerikan,
hanya pertanyaan yang masih saya pikirkan apakah Harimau Ngandong hidup
berbarengan dengan Harimau Jawa? Atau Harimau Jawa ada setelah Harimau Ngandong
punah?.
Empat alasan utama mengapa singa tidak pernah sampai ke
Jawa, menurut sintesis penelusuran-penelusuran yang saya rangkum:
- Habitat.
Jawa adalah hutan tropis, bukan savana. Singa butuh padang terbuka;
harimau butuh tutupan rapat.
- Evolusi
predator. Asia Tenggara adalah “rumah evolusi” harimau sejak ratusan
ribu tahun. Singa datang terlambat dan tidak siap.
- Kompetisi.
Harimau Ngandong terlalu dominan. Seekor harimau raksasa 400 kg jelas
tidak memberi ruang bagi singa.
- Sejarah
migrasi. Jalur Paparan Sunda lebih mendukung spesies hutan Asia Timur
daripada spesies savana dari barat.
Hari ini, ketika saya melihat foto-foto Harimau Sumatra yang
tersisa di Taman Nasional Kerinci Seblat, saya merasa ada benang merah panjang.
Harimau Sumatra adalah ahli waris langsung Populasi Harimau Ngandong —
satu-satunya harimau yang masih hidup di alam liar Indonesia. Dan ini baru
dugaan saya, ketika es mencair populasi Harimau Ngandong yang terjebak di
Sumatera menjadi Harimau Sumatera, sedangkan populasi yang tersisa di Jawa dan
Bali menjadi Harimau Jawa dan Harimau Bali yang sudah punah.
Sedangkan untuk singa saat ini populasi singa Asia di Gir
Forest hanya sekitar 600 ekor, terancam punah. Kedua spesies ini, meski
berbeda, sama-sama menjadi korban perburuan manusia dan hilangnya hutan.
Dalam perjalanan penelusuran berbagai tulisan ini, saya
menyadari bahwa Nusantara tidak pernah kekurangan predator megah. Kita mungkin
tidak punya singa, tapi kita punya harimau raksasa yang lebih mengagumkan.
Kisah Harimau Ngandong mengingatkan kita bahwa Jawa pernah menjadi bagian dari
dunia megafauna yang luar biasa. Simbol singa dalam budaya kita kemungkinan hanyalah
warisan impor dari India dan Timur Tengah — sebuah penghormatan terhadap
kekuatan yang kita kagumi, meski hewannya sendiri tidak pernah datang.
Mungkin itulah pesan terdalam yang saya dapatkan setelah penelusuran
panjang ini. Alam tidak pernah salah memilih penguasa. Singa tetap menjadi raja
di padang rumput Timur Tengah dan Afrika. Di Jawa, takhta itu selalu milik
harimau. Dan kita, sebagai manusia yang mewarisi cerita ini, punya tanggung
jawab untuk menjaga agar warisan predator purba Nusantara tidak lenyap
selamanya.

No comments:
Post a Comment