Pagi itu, udara masih lembap di tepian rawa. Cahaya matahari baru saja menembus celah dedaunan, memantulkan kilau hijau yang menenangkan. Di tengah keheningan yang sesekali dipecah suara serangga, terdengar satu bunyi yang dalam dan berulang—“buu… but… buu… but…”.
Namun anehnya, sumber suara itu tak terlihat.
Ia tidak melompat ke dahan terbuka. Tidak pula terbang melintas seperti burung lain yang mudah dikenali. Suara itu datang dari balik semak—tersembunyi, pelan, namun tegas. Itulah Bubut Jawa, burung misterius yang lebih sering didengar daripada dilihat.
Burung yang Tak Suka Panggung
Di antara ratusan spesies burung di Pulau Jawa, Bubut Jawa (Centropus nigrorufus) adalah salah satu yang paling “low profile”. Ia tidak mencolok dalam perilaku, meski secara visual sebenarnya cukup kontras.
Tubuhnya didominasi warna hitam pekat, berpadu dengan cokelat kemerahan di bagian sayap dan dada. Matanya merah terang, seolah menyala di antara bayangan vegetasi. Paruhnya tebal dan kuat, memberi kesan burung ini adalah pemburu yang serius.
Namun semua itu jarang benar-benar terlihat jelas.
Bubut Jawa bukan tipe burung yang suka tampil. Ia memilih hidup di balik rapatnya semak, berjalan perlahan di permukaan tanah, menyusuri sela-sela vegetasi. Ketika merasa terganggu, ia lebih memilih menghilang daripada terbang jauh.
Rawa, Rumah yang Kian Menghilang
Bagi Bubut Jawa, rumah bukanlah hutan tinggi atau pegunungan, melainkan ruang-ruang yang sering dianggap “tidak penting”: rawa, semak belukar, dan lahan basah.
Di situlah ia mencari makan, berkembang biak, dan bertahan hidup.
Namun hari ini, lanskap seperti itu semakin jarang ditemukan—terutama di Pulau Jawa. Rawa dikeringkan, semak dibersihkan, dan lahan basah diubah menjadi permukiman atau sawah intensif.
Tanpa disadari, ruang hidup Bubut Jawa menyusut sedikit demi sedikit.
Di beberapa tempat, burung ini bahkan sudah tidak lagi terdengar. Bukan karena ia pindah, tetapi karena habitatnya hilang.
Pemburu Senyap di Lantai Hutan
Jika kita cukup beruntung untuk mengamati Bubut Jawa lebih dekat, satu hal yang langsung terlihat adalah cara bergeraknya.
Ia bukan penerbang aktif seperti burung layang-layang. Ia lebih mirip “penjelajah darat”—melangkah pelan, mengendap, lalu tiba-tiba menyergap mangsa.
Makanannya beragam:
serangga besar, ulat, katak kecil, hingga reptil mungil. Bahkan sesekali, ia bisa memangsa anak burung lain.
Dalam ekosistem, peran ini sangat penting. Bubut Jawa membantu menjaga keseimbangan populasi hewan kecil, terutama yang berpotensi menjadi hama.
Ia bekerja diam-diam, tanpa banyak perhatian.
Tidak Seperti Wiwik Lainnya
Menariknya, meski termasuk keluarga Cuculidae (kelompok burung wiwik), Bubut Jawa tidak mengikuti “tradisi” parasit sarang.
Ia tidak menitipkan telurnya di sarang burung lain.
Sebaliknya, Bubut Jawa membangun sarangnya sendiri—biasanya tersembunyi di semak rendah. Sarang itu sederhana, namun cukup untuk melindungi telur dan anaknya.
Induk jantan dan betina bekerja sama merawat anak. Mereka bergantian mengerami telur, mencari makan, dan menjaga sarang dari predator.
Sebuah bentuk tanggung jawab yang jarang diasosiasikan dengan keluarga wiwik.
Suara yang Lebih Dulu Dikenal daripada Wujudnya
Bagi banyak orang, Bubut Jawa bukan dikenal dari bentuknya, melainkan dari suaranya.
Nada panggilannya dalam, berat, dan berulang. Tidak nyaring, tapi cukup untuk menarik perhatian.
Di beberapa budaya lokal, suara ini bahkan sering dikaitkan dengan hal-hal mistis atau pertanda tertentu.
Padahal, secara ekologis, suara itu adalah bagian dari komunikasi:
menandai wilayah, memanggil pasangan, atau sekadar menunjukkan keberadaan.
Namun karena burungnya jarang terlihat, suara itu terasa seperti “datang dari tempat yang tak terlihat”.
Di Ambang Ketidakjelasan
Hari ini, Bubut Jawa berada dalam kategori terancam.
Bukan karena diburu secara besar-besaran, tetapi karena sesuatu yang lebih halus—kehilangan habitat secara perlahan.
Fragmentasi lanskap membuat populasi terpisah. Rawa yang tersisa semakin kecil dan terisolasi. Vegetasi yang dulu menjadi tempat berlindung kini digantikan beton atau lahan terbuka.
Dan seperti banyak spesies lain yang tidak “populer”, Bubut Jawa sering luput dari perhatian.
Mendengar yang Tersembunyi
Mungkin, kita tidak akan sering melihat Bubut Jawa secara langsung.
Namun kita masih bisa mendengarnya.
Dan dari suara itu, ada pesan sederhana:
bahwa masih ada kehidupan liar yang bertahan di ruang-ruang kecil yang tersisa.
Bahwa rawa bukan sekadar lahan kosong.
Bahwa semak bukan sekadar “kotoran alam”.
Bahwa setiap suara di alam punya makna.
Dan mungkin, justru dari yang tersembunyi itulah, kita belajar untuk lebih peduli.
Penutup
Bubut Jawa bukan burung yang mencari perhatian. Ia tidak berwarna mencolok seperti burung kicau populer, tidak pula sering muncul di ruang terbuka.
Namun justru di situlah keistimewaannya.
Ia adalah pengingat bahwa keanekaragaman hayati tidak selalu hadir dalam bentuk yang mencolok. Kadang ia tersembunyi, sunyi, dan hanya bisa dikenali oleh mereka yang mau berhenti sejenak untuk mendengar.
Di tengah perubahan lanskap yang cepat, keberadaan Bubut Jawa menjadi pertanyaan sekaligus harapan:
apakah kita masih menyisakan ruang untuk yang tidak terlihat?
Mau mengajarkan anak mengenal Bubut Jawa? klik link ini Lagu Anak-anak tentang Bubut Jawa

No comments:
Post a Comment