Kondisi burung di Jakarta secara umum mengalami penurunan keanekaragaman jenis yang signifikan seiring dengan menyusutnya Ruang Terbuka Hijau (RTH) akibat masifnya pembangunan, namun kawasan RTH yang tersisa masih menyimpan potensi ekologis yang penting.
Berikut adalah gambaran komprehensif mengenai kondisi burung di Jakarta saat ini:
1. Penurunan Drastis Keanekaragaman Spesies Keberagaman jenis burung di Jakarta telah menyusut tajam jika dibandingkan dengan beberapa dekade lalu. Pada tahun 1946, naturalis Andries Hoogerwerf mencatat terdapat 256 jenis burung liar di Jakarta. Namun, akibat menyempitnya habitat, jumlah ini turun drastis menjadi hanya sekitar 121 jenis pada pantauan tahun 2004-2008, dan tercatat di angka 135 jenis pada tahun 2011. Sebagai contoh yang memprihatinkan, burung Elang Bondol (Haliastur indus) yang merupakan lambang kota Jakarta kini terancam punah dan hanya bisa ditemui secara langsung di wilayah Kepulauan Seribu. Meski demikian, kajian lain yang mengumpulkan data dari tahun 2008-2014 di 21 lokasi RTH Jakarta masih berhasil mendata 162 jenis burung yang bertahan hidup
.
2. Didominasi oleh Burung Perkotaan (Urban Birds) Burung-burung yang berhasil bertahan di Jakarta umumnya adalah burung urban yang memiliki daya adaptasi tinggi terhadap kehadiran manusia dan kebisingan kota. Spesies yang paling melimpah dan sangat mudah dijumpai di berbagai taman kota, jalur hijau, hingga perumahan adalah Cucak Kutilang (Pycnonotus aurigaster) dan Burung Gereja Erasia (Passer montanus).
Berdasarkan fungsi ekologis atau tipe pakannya (guild pakan), komunitas burung di Jakarta sangat didominasi oleh burung pemakan serangga di kanopi pohon (22,22%) dan pemakan ikan (17,28%). Tingginya populasi burung pemakan serangga ini sangat bermanfaat bagi lingkungan karena membantu mengendalikan hama secara alami. Sayangnya, untuk jenis burung laut justru jarang ditemukan beraktivitas di Teluk Jakarta karena pencemaran perairan yang menurunkan kadar oksigen dan menyebabkan kematian ikan yang merupakan sumber pakan mereka.
3. Ketergantungan pada 20 Habitat Utama dan Jalur Migrasi Burung di Jakarta sangat bergantung pada RTH yang tersisa (seperti taman kota, hutan kota, sempadan sungai, dan pemakaman) sebagai tempat mencari makan, berlindung, dan bersarang. Pemerintah telah memetakan 20 lokasi utama habitat burung di DKI Jakarta, di antaranya adalah Suaka Margasatwa Muara Angke, Pulau Rambut, Kawasan Monas, Taman Margasatwa Ragunan, Hutan Kota UI, hingga Taman Impian Jaya Ancol.
Jakarta tidak hanya menjadi rumah bagi burung penetap, tetapi juga merupakan jalur perlintasan dan tempat singgah burung migran antarbenua (Oktober-April) yang menghindari musim dingin. Kawasan pesisir seperti Muara Angke menjadi tempat persinggahan burung pantai migran, sementara RTH di Jakarta Selatan seperti Hutan Kota UI dan Ragunan menjadi tempat istirahat favorit bagi raptor/elang migran seperti Sikep Madu Asia dan Elang Alap Cina.
4. Ancaman dan Gangguan Lingkungan Kondisi habitat burung di Jakarta masih dibayangi berbagai ancaman serius, antara lain:
- Alih Fungsi Lahan: Berkurangnya RTH yang berubah menjadi gedung perkantoran, pusat perbelanjaan, atau pemukiman membatasi ruang gerak dan ketersediaan pakan burung.
- Tingkat Kebisingan (Polusi Suara): Suara bising dari kendaraan bermotor dan aktivitas manusia mengubah kebiasaan, menimbulkan stres, serta mengganggu pergerakan dan reproduksi burung di jalur-jalur hijau jalan.
- Pulau Panas Kota (Urban Heat Island) & Polusi: Polusi udara dan air, serta peningkatan suhu kota membuat kondisi fisik beberapa habitat tidak ideal lagi, terutama bagi burung berstatus spesialis yang sangat sensitif terhadap kerusakan lingkungan.
.png)
No comments:
Post a Comment