Burung bukan sekadar penghias langit kota. Mereka adalah komponen
penting ekosistem perkotaan yang berkontribusi langsung pada kualitas
lingkungan dan kehidupan manusia.
Disatu sisi kota butuh burung karena mereka bukan sekadar
"tamu" yang bikin ramai atau kotor trotoar, tapi pekerja ekologis
yang sangat penting buat menjaga keseimbangan lingkungan di tengah kota yang
penuh beton dan asap.
Burung bukan sekadar "penghias" langit kota;
mereka memiliki peran krusial dalam menjaga keseimbangan ekosistem urban yang
seringkali rapuh. Tanpa burung, kualitas hidup manusia di perkotaan bisa
menurun secara signifikan.
Salah satu fungsi utama burung di kota adalah sebagai pengendali
hama.
Banyak burung memakan serangga, nyamuk, dan organisme
pengganggu lain. Ini membantu menekan populasi hama tanpa pestisida, sehingga
lebih aman bagi manusia dan lingkungan.
Contoh kasus di kota Jakarta Burung-burung seperti burung
Kerak kerbau, Cipoh kacat, Cucak kutilang, atau Remetuk laut memakan ribuan
serangga setiap harinya — ulat, kutu daun, nyamuk, lalat, belalang, dll. Di
taman kota, pekarangan, atau pinggir jalan yang ada tanaman.
Point pengendali hama alami serangga oleh burung di kota
adalah salah satu jasa ekosistem paling murah dan efektif yang sering kita
abaikan. Burung bertindak sebagai predator alami yang mengurangi populasi
serangga hama tanpa perlu pestisida kimia, GRATIS.
Pengendalian oleh burung tidak meninggalkan zat kimia di
udara atau tanah yang bisa membahayakan kesehatan warga atau hewan peliharaan,
kota tidak perlu mengeluarkan anggaran besar untuk penyemprotan (fogging) jika
ekosistem burung lokal terjaga dengan baik.
Sebagai contoh Burung Walet dan layang-layang, mereka
adalah pemburu udara yang luar biasa. Seekor burung walet dan layang-layang dapat
memakan ratusan hingga ribuan serangga kecil (seperti nyamuk, lalat, dan rayap)
dalam satu hari sambil terbang.
Lalu ada Burung Gereja, tekukur biasa dan perkutut Jawa,
Meskipun kita sering melihat mereka memakan biji-bijian, saat musim berbiak,
mereka akan berburu ulat dan serangga kecil secara intensif untuk memberi makan
anak-anak mereka yang membutuhkan protein tinggi.
Serangga yang dianggap hama di kota sering kali menjadi
vektor (pembawa) penyakit bagi manusia, contohnya nyamuk. Dengan adanya burung yang
aktif di sore atau pagi hari membantu mengurangi jumlah nyamuk yang bisa
menyebarkan DBD, Malaria, atau virus Zika.
Jadi sebuah kota membutuhkan burung karena mereka menjaga
fungsi ekologis, meningkatkan kualitas hidup manusia, dan menjadi indikator
penting keberlanjutan lingkungan perkotaan. Tanpa burung, kota menjadi lebih
bising, panas, tidak seimbang, dan miskin makna ekologis.
Lalu menurutmu apakah burung tidak layak untuk hidup di kota ... ?

No comments:
Post a Comment