Kita renungkan kembali tulisan
sebelumnya Dimana fungsi utama burung adalah sebagai pengendali hama (https://kucingbatu.blogspot.com/2026/01/kenapa-kota-butuh-burung-part-1.html).
Hama seperti apa yang dimaksud? Apakah
ulat, lalat, nyamuk, kumbang dan lainnya, ok dalam tulisan ini akan saya
jelaskan mengenai hama ulat bulu, terlebih lagi kita kerucutkan serangan ulat
bulu di Jakarta.
Serangan ulat bulu di Jakarta
sepanjang 2020-2025 memang terjadi beberapa kali, terutama di kawasan yang
memiliki lahan kosong atau vegetasi lebat. Berikut rangkuman dari media-media
di internet yang saya kumpulkan :
Lokasi Utama Serangan (2020 - 2025)
- Kemanggisan,
Jakarta Barat (Juni 2025): Kasus yang paling baru dan cukup masif.
Ulat bulu menyerang area pertokoan dan kos-kosan di Jalan Kemanggisan
Raya. Ratusan ulat merayap di tembok, bergelantungan di kabel, hingga
masuk ke dalam ruko.
- Tebet,
Jakarta Selatan (Oktober 2024): Serangan terjadi di pemukiman warga
Jalan Masjid Al-Muttaqien, Manggarai Selatan. Suku Dinas KPKP turun tangan
melakukan penyemprotan insektisida karena ulat sangat mengganggu warga.
- Koja,
Jakarta Utara (Januari 2024): Hama ulat bulu ditemukan di area RPTRA
Rasela. Petugas melakukan langkah preventif agar pengunjung (terutama
anak-anak) tidak terkena sengatan yang menyebabkan gatal.
- Duri
Kosambi & Cengkareng (November 2021): Ulat bulu berasal dari lahan
kosong dan masuk ke rumah-rumah warga selama berhari-hari sebelum akhirnya
dievakuasi oleh petugas Damkar.
- Duren
Sawit & Pondok Bambu, Jakarta Timur (2020 - 2021): Terjadi di
pemukiman warga saat memasuki musim penghujan. Laporan menyebutkan ulat
menempel di dinding hingga plafon rumah.
Berdasarkan laporan kejadian di
Jakarta antara tahun 2020 hingga akhir 2025, jenis ulat bulu yang menyerang
pemukiman umumnya berasal dari keluarga Lymantriidae.
Meskipun identifikasi spesies
secara spesifik memerlukan identifikasi lebih lanjut, setiap kali kejadian,
para ahli dan pihak Dinas KPKP DKI Jakarta sering mengidentifikasi beberapa
jenis berikut sebagai "pelaku" utama serangan di wilayah perkotaan
yaitu jenis Arctornis submarginata dan Lymantria marginata. Kedua
jenis ini adalah ulat dari ngengat bukan kupu-kupu, Dimana kedua jenis ini
memiliki bulu yang sangat lebat di tubuhnya.
Ledakan populasi ulat di Jakarta
dipicu oleh anomali cuaca berupa perubahan musim yang ekstrem dan musim hujan
berkepanjangan yang menciptakan kondisi lembap sehingga mendukung penetasan
telur, diperparah oleh minimnya predator alami seperti burung pemangsa
ulat yang membuat siklus hidupnya tidak terkendali, serta keberadaan lahan
kosong yang tidak terawat, ditumbuhi tanaman liar atau pohon yang jarang
dipangkas, sehingga menjadi habitat ideal bagi ulat untuk berkembang.
Secara alami, ledakan populasi
ulat bulu seharusnya bisa diredam oleh burung-burung pemakan serangga (insectivorous
birds). Ketika jumlah burung predator berkurang, siklus hidup ulat bulu
menjadi tidak terkendali. Tanpa burung yang memakan larva, hampir 80–90% telur
ulat yang menetas berhasil tumbuh menjadi ulat dewasa. Tanpa "rem"
alami dari burung, setiap kali terjadi anomali cuaca (seperti kelembapan
tinggi), ulat-ulat ini akan meledak populasinya (outbreak) secara masif di
wilayah perkotaan seperti yang terjadi di Kemanggisan atau Jakarta Barat.
Nah menariknya nih tidak semua
burung bisa memakan Arctornis atau Lymantria. Bulu-bulu halus
pada ulat ini bukan hanya menyebabkan gatal pada manusia, tapi juga merupakan
mekanisme pertahanan terhadap burung. Hanya burung-burung tertentu dengan
sistem pencernaan khusus atau teknik berburu tertentu yang berani memangsa ulat
berbulu lebat dan jika burung-burung spesialis ini hilang, maka ulat jenis ini
akan mendominasi pohon-pohon di Jakarta tanpa ada yang mengganggu.
Kira-kira jenis burung
apa yang menjadi specialist pemakan ulat bulu ini? bagaimana keberadaan mereka di Jakarta … nantikan di tulisan berikutnya

No comments:
Post a Comment