Monday, October 10, 2022

Takur ungkut-ungkut Sang Pandai Besi

Takur ungkut-ungkut adalah salah satu burung menarik yang bisa di amati di beberapa daerah di Jakarta. salah satunya di Taman Monas, Taman Suropati, Taman Langsat, Hutan Kota Kemayoran, Kawasan GBK dan Taman Margasatwa Ragunan. Burung ini memiliki nama latin Psilopogon haemacephalus atau Megalaima haemacephala. 

Takur ungkut-ungkut merupakan burung yang mempunyai struktur paruh keras, karena di pergunakan untuk membuat lubang di pohon maupun mencari pakan berupa ulat yang tersembunyi di balik kulit kayu sebuah batang pohon, walapun sebagian besar makanannya berupa buah-buahan.

Persebaran burung ini sangat luas, mulai dari India, Pakistan, Nepal, Myanmar, Thailand, Vietnam, Laos, Malaysia, Filipina hingga Indonesia. dan dari 9 sub spesies yang ada di Indonesia terdapat dua sub spesies burung ini yakni Psilopogon haemacephalus delicus untuk wilayah Sumatera dan Psilopogon haemacephalus roseus untuk wilayah Jawa dan Bali.

Entah kenapa dalam bahasa inggris burung ini dinamai Coppersmith Barbet. Menurut Bas van Balen, salah satu peneliti burung asal Belanda, penamaan coppersmith karena suaranya yang terdengar seperti penempa besi yang sedang menempa tembaga, saya juga ndak terbayang suara tempaan tembaga seperti apa, namun penamaan dalam bahasa Indonesia mengikuti irama suaranya yang berbunyi "ungkut ungkut ungkut ungkut" dan terus bersuara seperti itu hingga beberapa waktu. dan menurut kalian apakah suaranya mirip dengan tembaga yang sedang di tempa?

Suara Takur Ungkut-ungkut

Friday, July 22, 2022

BURUNG BERTOPENG BIRU, KEINDAHAN LAIN PULAU PAPUA


Sewaktu pertama kali menjejakkan kaki ke Waigeo Raja Ampat, Kehicap biku-biku adalah salah satu target burung yang harus saya temukan dan dokumentasikan.

Burung ini termasuk ke dalam tipe dimorfisme, gampangnya jantan dan betina mempunyai warna yang berbeda. betina mempunyai warna putih, orange dan hitam di tubuh sedangkan jantan hanya mempunyai warna hitam dan putih. Namun yang membuat burung ini indah di mata saya adalah adanya lingkarang biru yang mengelilingi mata, seperti sedang memakai topeng.

Kehicap biku-biku mempunyai nama latin Arses telescopthalmus dan dalam bahasa inggris biasa dikenal dengan nama Frilled Monarch. Burung ini endemik pulau Papua dan Papua new guini serta pulau-pulau sekitarnya seperti Waigeo, Batanta, Salawati, Misol hingga kepulauan Aru.

Burung ini ukurannya seperti kutilang di 15 - 16 cm dengan habitat Hutan hujan, daerah tepi hutan yang berbatasan dengan pemukiman atau ladang, dataran rendah dan perbukitan, hingga ketinggian 1500 meter di atas permukaan laut.

Burung ini termasuk insectivora, atau burung pemakan serangga dimana sebagian makanannya adalah belalang dan kumbang, sehingga burung ini di alam berperan dalam mengontrol populasi hama.

Selain warnanya yang indah burung ini juga mempunyai suara yang jika di dengarkan itu merdu sekali dan menyejukkan hati he he he walaupun pertama kali di dengar seperti suara dengungan tonggeret.

Nah jika kalian berkesempatan ke Papua atau Raja Ampat, sempatkan bertemu dengan burung ini ...

Thursday, July 7, 2022

BURUNG CANTIK BERGAYA ALA MODEL


Ada satu burung yang di kalangan pengamat burung ketika melihatnya di alam, akan di panggil dengan nama "Tracy Trinita" nama salah satu model cantik di Indonesia dialah si Gagang Bayam Timur (Himantopus leucocephalus).

Gagang Bayam Timur, mendapatkan nama Tersebut karena memang burung ini memiliki kaki yang tipis dan berjenjang, ketika berjalan goyang kanan, goyang kiri tampak seperti model yang berjalan di catwalk. 

Gagang Bayam Timur sendiri termasuk kedalam burung air yang habitatnya berada di hutan mangrove, rawa air payau dan tambak-tambak masyarakat. Burung ini tersebar di seluruh kepulauan di Indonesia hingga Asutralia dan Selandia Baru. 

Walaupun secara umum masih banyak populasinya namun tak jarang burung ini di tangkap dan diperjualbelikan di pasar burung dan hal ini yang menjadi ancaman terbesar bagi keberadaan burung ini.

Coba perhatikan burung ini di lingkungan sekitar kalian, untuk di Jakarta sendiri jenis ini bisa ditemukan di hutan mangrove Muara Angke, ayo kenali burung-burung di Indonesia dan lestarikan keberadaan mereka.



Wednesday, March 30, 2022

SEPUPU WALET YANG SUKA BERTENGGER

 Tepekong Rangkang (Hemiprocne comata) atau dalam bahasa inggris dikenal dengan nama Whiskered Treeswift, menurut saya adalah burung yang cantik karena di alis dan jenggotnya berwarna putih he he he. Burung ini merupakan sepupu walet-waletan karena dahulu di masukkan kedalam keluarga Walet (Apodidae), namun saat ini berdasarkan taksonomi terbaru dipisah menjadi keluarga sendiri yakni Hemiprocnidae, dimana keluarga ini di dunia hanya terdiri dari 4 jenis saja dengan marga Hemiprocne.

Tepekong Rangkang umum bisa di temukan di negara Brunei, Indonesia, Malaysia, Myanmar, Filipina, Singapura, dan Thailand. di Indonesia sendiri bisa ditemukan di Pulau Sumatera dan Kalimantan. Habitat alaminya adalah hutan dataran rendah lembap subtropis atau tropis, hutan bakau subtropis atau tropis, dan hutan pegunungan lembap subtropis atau tropis dan relatif mudah menemukan jenis ini.

Perilaku menarik jenis ini adalah ketika burung ini bertengger, kepalanya tampak melihat kekanan dan kekiri hingga 360 derajat arah pandangannya. Burung ini memantau pergerakan serangga yang terbang di depannya lalu dengan cepat akan mengejar dan menangkap serangga terbang tersebut dengan paruhnya.

Walaupun burung ini umum ditemukan di Sumatera dan Kalimantan, namun jika habitat hutan alami terus menghilang maka, akan berpengaruh terhadap ketersediaan serangga sebagai pakan Tepekong Rangkang, dan jika pakan hilang maka burung ini pun akan ikut menghilang

Ayo lestarikan Hutan indonesia agar burung ini tidak kehilangan habitatnya

Sunday, May 23, 2021

COMMEMORATING BIODIVERSITY DAY 2021

Commemorating Biodiversity Day 2021 and visiting Jakarta Bay which is still full of garbage piles, did you have time to think about the fate of these birds in the future?

From monitoring of several bird species such as Javan pond heron (Ardeola speciosa), some of these individual birds are foraging for live fish in the river (photos 1 & 2)


And there are also some birds that scavenge trash on the riverbank and get human waste, such as in Photo 3, which shows a one individual eating chicken intestines. and sadly there is a young Javan pond heron who took the wrong plastic which he left a fish (photo 4).


Jakarta Bay itself is the estuary of 13 rivers that cross the city of Jakarta. The Indonesian Institute of Sciences (LIPI) Research Center for Oceanography said 8.32 tons of garbage enters Jakarta Bay every day ... wow.

With the theme "We're part of the solution" in the commemoration of Biodiversity Day 2021, will we be able to reduce waste in Jakarta Bay by reducing the use of plastic waste and preventing waste from being thrown into the river?

I think you have to, because birds are a part of our lives and "They need us"

Wednesday, April 5, 2017

Keluarga Tumbuhan Pemangsa Namun Vegetarian


Nepenthes ampullaria, merupakan salah satu jenis kantong semar yang ada di Indonesia, namun jenis N. ampullaria tidak memiliki kedekatan dengan spesies lain dalam marga Nepenthes. Periuk monyet adalah nama lokal dari N. ampullaria, karena jenis ini pada musim kemarau sering digunakan monyet untuk minum.

N. ampullaria di Indonesia dapat ditemukan di Sumatera, Kalimantan, Kepulauan Maluku dan Papua. N. ampullaria biasanya hidup di tempat yang lembap, hutan teduh sampai ketinggian 2.100 meter di atas permukaan laut.


Di Kalimantan, biasanya hidup di tanah yang datar seperti di hutan kerangas, hutan rawa gambut, dan hutan rawa yang terdegradasi, di ketinggian 0 sampai 1.000 meter. Sedangkan di Sumatera, N. ampullaria tumbuh sampai di ketinggian 1.100 meter pada tanah datar seperti di hutan yang hangat, padang rumput, belukar, hutan rawa gambut, hutan rawa yang terdegradasi, sampai di sawah padi.

Batang dari N. ampullaria berwarna coklat dan bisa tumbuh sampai 15 meter. Daunnya berwarna hijau, panjang 25 cm, dan lebar 6 cm. Kantong dihasilkan pada ujung daun dan sulur tidak lebih panjang dari 15 cm. Kantung bawah berukuran kecil, jarang bisa melebihi 10 cm dan tinggi 7 cm. Kantung atas jarang dihasilkan, biasanya ukurannya lebih kecil dari kantung bawah. Warna kantung bervariasi, mulai dari hijau polos sampai merah tua dan banyak kombinasi lain yang ditemukan.

N. ampullaria paling mudah dibedakan dengan jenis Nepenthes lainnya karena keunikannya. salah satu keunikannya adalah kemampuan menghasilkan “kelompok kantung” yaitu segerombolan kantong-kantong tanpa daun yang tumbuh pada batang tegak atau di atas tanah hingga menyerupai karpet tebal di lantai hutan atau di rawa-rawa.



N. ampullaria juga dikenal sebagai satu-satunya spesies kantong semar yang “vegetarian”, dikarenakan kantong tanaman ini tidak memiliki kelenjar nektar pada bibir kantong sehingga jarang ada serangga yang terjebak dalam kantong. Umumnya sebagian besar benda-benda yang ditemukan dalam kantong adalah dedaunan yang membusuk, kotoran hewan, ranting-ranting kecil dan air hujan. Jadi, kantong semar ini sangat berguna sebagai alternatif air minum ketika sedang tersesat atau “survival”.

Di kalangan hobiis tanaman, jenis ini banyak di silangkan dengan jenis Nepenthes lain sehingga menghasilkan beberapa varian baru. Jenis ini juga dimanfaatkan sebagai obat sakit mata dan obat sakit perut.


Wednesday, March 29, 2017

Mengabadikan Para Penghuni Malam Ranca Upas


“toeeeeeeeeeettt ... toeeeeeeeeeeettt ... suara tongeret, mulai bergema menandakan malam sebentar lagi akan tiba. Beberapa rekan-rekan pegiat Wildlife Photography mulai berkumpul di tenda setelah lelah seharian berburu burung Luntur Jawa (Apalharpactes reinwardtii) yang merupakan maskot bagi para fotografer wildlife jika berkunjung ke Ranca Upas.

Ranca Upas atau Kampung Cai Ranca Upas adalah salah satu bumi perkemahan di Bandung, Jawa Barat, Indonesia. Terletak di Jalan Raya Ciwidey Patenggang KM. 11, Alam Endah, Ciwidey Kabupaten Bandung, Jawa Barat dengan jarak sekitar 50 km dari pusat Kota Bandung. Ranca Upas adalah salah satu spot menarik bagi kalangan pemotret wildlife karena wilayah ini termasuk ke dalam kawasan Important Bird Area (IBA) dimana disini para pemotret akan dimanjakan dengan kehadiran burung endemik jawa dan terancam punah seperti Luntur Jawa, Puyuh Gonggong Jawa, Kipasan ekor Merah dan lainnya.

Para pegiat wildlife photography mengabadikan burung di Ranca Upas

Perkemahan Ranca Upas Memiliki luas area sekitar 215 Hektar, berada pada 1700 meter di atas permukaan laut, dengan suhu udara sekitar 17°C - 20°C. Dengan kawasan Perhutani yang mengelilinginya. Ranca Upas sendiri sejarahnya merupakan daerah rawa yang banyak tumbuh pohon Upas (Antiaris toxicaria) yakni pohon yang memiliki getah yang sangat beracun yang dahulu racunnya dipergunakan dalam anak panah untuk berburu.

Hari pun semakin gelap, teman-teman fotografer pun semakin akrab bercengkrama di depan api unggun. Tanpa menyia-nyiakan waktu di tempat yang indah ini, saya dan teman dari Balikpapan akhirnya menyusuri jalan hutan dengan tujuan mencari hewan-hewan yang beraktifitas di malam hari, terutama amfibi dan reptil atau yang lebih dikenal dengan sebutan hewan herpetofauna

Lampu dari senter pun menyala terang, kami amati kanan dan kiri jalan setapak, tak lama di depan kami nampak pantulan mata berwarna merah, bergegas menuju ke arah yang disorot lampu senter dan kami menemukan Green-lesser Agamid (Pseudocalotes tympanistriga) atau biasa disebut Kadal mimikri. Kadal ini nampak sedang tidur, karena jenis ini dan bunglon kerabatnya adalah reptile yang aktif di siang hari bukan di malam hari. Kami menemukan ada 4 individu yang tak jauh jaraknya sedang beristirahat di tumbuhan paku.

Kadal Mimikri sedang tertidur di daun tumbuhan paku
Perjalanan kami lanjutkan ke arah sungai, sesaat ketika melewati daerah yang terbuka dengan banyak serasah daun, saya melihat ada sesuatu kecil sedang melompat-lompat. Segera saya hampiri dan wow saya menemukan Bangkong serasah (Leptobrachium haseltii), terakhir saya menemukan jenis ini di daerah Bodogol, Taman Nasional Gede Pangrango. Katak yang bagus sekali coraknya menurut saya, sehingga langsung saya abadikan dengan kamera.

Bangkong serasah diantara serasah-serasah hutan
Dari arah sungai saya mendengar suara khas yang saya kenal betul, dan yup banyak sekali individu Katak pohon jawa (Rhacoporus margaritifer) yang sedang bertengger dan sesekali mengeluarkan suara khasnya. Katak pohon ini merupakan katak pohon yang hanya dapat dijumpai di pulau Jawa. Umum ditemukan di aeral terbuka dekat hutan hingga di hutan namun berada dekat sungai. Terlihat juga di kejauhan si Kongkang kolam (Hylarana chalconota), namun tidak sempat terfoto karena jarak yang terlalu jauh.

Katak pohon Jawa, bertengger di pohon yang tak jauh dari sungai
Kami tidak terlalu lama melakukan hunting malam, dikarenakan perut yang sudah terasa lapar dan kami memutuskan kembali ke tenda, untuk saling bercerita dengan rekan-rekan pegiat wildlife photography yang lain. Menariknya dalam perjalan pulang kami menemukan Percil Jawa (Microhyla achatina) yang selalu bersembunyi, namun katak ini selalu mengeluarkan suara yang keras dan tambahan esok paginya ketika sedang hunting burung, saya menemukan Katak pohon emas (Philautus aurifasciatus) yang sedang beristirahat di pohon kecil.

Percil jawa, si kecil yang bersuara besar

Katak pohon emas yang sedang asyik bertengger
Jadi Ranca Upas menurut saya untuk objek wildlife photography, tidak hanya menarik dari sisi burungnya namun juga keanekaragaman lainnya seperti reptil dan amfibi ... so selamat hunting

Membongkar Identitas Sang Penyamar: Sengkarut Taksonomi Bunglon Invasif di Jantung Nusantara

Di rimbun pembatas perkebunan kelapa sawit Kalimantan Utara, hingga ke kerapatan vegetasi pesisir Teluk Bintuni, Papua Barat, sebuah ledakan...