Translate

Saturday, February 11, 2023

BLEKOK SAWAH SANG OPORTUNIS

Masih dalam bulan sensus burung air se-Asia (Asian Waterbird Census), kali ini kita akan berkenalan dengan salah satu burung air yang umum atau biasa para pengamat burung di Jakarta menyebutnya burung “receh”. Yak ini adalah burung receh namun unik menurut saya, karena burung ini mempunyai fase yang mana ketika berbiak bulu nya akan berubah warna. Kenapa saya sebut unik karena selama pengamatan sepanjang tahun di Jakarta, saya hanya sekali atau dua kali menjumpai burung ini dalam fase tidak berbiak, selebihnya lebih sering di temukan dalam fase berbiak, sehingga saya fikir burung ini kawin sepanjang tahun yak he he he … Yak burung ini adalah jenis Blekok sawah (Ardeola speciosa).


MORFOLOGI BLEKOK SAWAH

Blekok sawah, adalah spesies burung yang termasuk dalam keluarga Ardeidae. Burung ini biasanya ditemukan di wilayah tropis dan subtropis Asia dan Afrika. Burung berukuran 45 cm ini memiliki ciri khas warna abu-abu, jingga dan putih, dengan paruh berwarna kuning dan hitam pada ujungnya. Ketika berbiak, Kepala, dada kuning tua. Punggung nyaris hitam. Tubuh bagian atas lainnya coklat bercoret-coret. Tubuh bagian bawah putih. Saat terbang sayap terlihat sangat kontras dengan punggung yang hitam dan ketika tak berbiak mirip dengan warna individu remaja yakni Coklat bercoret-coret. Iris kuning, paruh kuning, ujung paruh hitam, kaki hijau buram.


HABITAT DAN PENYEBARAN BLEKOK SAWAH

Blekok sawah memiliki habitat utama di sawah, tambak, dan lingkungan air terbuka lainnya. Mereka juga ditemukan di hutan mangrove, rawa, dan sungai. Spesies ini umumnya ditemukan di daerah tropis dan subtropis di Asia dan Afrika. Blekok Sawah membutuhkan lingkungan air terbuka dan cukup luas untuk bertelur dan membesarkan anaknya. Untuk persebaran berdasarkan ketinggian, burung ini bisa ditemukan sampai ketinggian 1500 mdpl di pulau Jawa, sedangkan di Filipina hingga 1100 mdpl.

Blekok sawah menyebar luas di Asia Tenggara, negera-negara seperti Myanmar, Laos, Vietnam, Thailand, Malaysia, Indonesia hingga Filipina, tetapi pernah tercatat pada tahun 2007 di bagian utara Australia, dimana diduga burung ini tersasar akibat terbawa badai dari kepulauan Maluku.


 

PERKEMBANGBIAKAN BLEKOK SAWAH

Blekok sawah berkembang bisa sepanjang tahun untuk di Jawa, namun beberapa pulau di Indonesia mempunyai waktu perkembangbiakan yang berbeda, seperti di Kalimantan Selatan pada bulan Agustus – September, Maret di Sumatera dan Jawa Barat Januari – Agustus. Adapun di Jakarta dari informasi di Suaka Margasatwa Pulau Rambut, Blekok sawah mulai membuat sarang pada bulan Februari – April dengan telur rata-rata dalam sarang berjumlah 2 – 5 butir.

Blekok sawah ketika bersarang terkadang berpasangan sendiri atau dalam kelompok kecil tetapi berkoloni hingga 1000–2000 pasang dan jumlah terbesar yang pernah tercatat yakni di Sumatera Selatan sebanyak 9.000–60.000 pasang dan seringkali dalam koloni campuran dengan spesies lain, semisal dengan Kowak malam abu, Cangak merah, Kuntul besar, Kuntul perak, Kuntul kerbau dan Kuntul kecil.

 

TIPE PAKAN BLEKOK SAWAH

Tipe pakan Blekok sawah adalah Omnivora dimana terdiri dari komposisi ikan, katak, berudu, serangga air, belalang, kumbang, semut, rayap dan cacing tanah. Ketika mencari makan, Blekok sawah akan berdiam lama di pinggir air atau bertengger di akar mangrove di atas air, ketika ikan lewat dalam area sergapan paruhnya, dengan cepat burung ini akan memangsa ikan tersebut.

Namun ada catatan menarik dimana tahun 2012 di Ecopark Ancol, tercatat Blekok sawah memangsa burung Bondol peking (Lonchura punctulata) dan 8 Januari 2023 lalu, tercatat burung ini memangsa burung gereja (Passer montanus) di Utan Kemayoran. Hal ini sangat menarik karena apakah burung ini memangsa burung karena kesulitan mencari pakan berupa ikan atau memang burung ini bersifat oportunis.

Mungkin untuk kasus di Jakarta, burung ini memang bersifat oportunis, dimana di Muara Angke, burung ini ditemukan bertengger di atas tumpukan sampah plastik dan memakan sisa makanan manusia atau sampah buangan manusia.


 

KENAPA MENJADI OPORTUNIS

Ini baru teori saja sih, Blekok sawah menjadi bersifat oportunis karena mereka memanfaatkan berbagai sumber makan untuk bertahan hidup dan berkembang biak, dalam hal ini karena burung ini jumlahnya masih banyak di suatu area, sehingga persaingan mencari makan untuk keberlangsungan hidup pun sangat ketat. Beberapa individu mau tidak mau beradaptasi dan dapat menyesuaikan diri dengan mudah terhadap perubahan lingkungan dan memanfaatkan peluang untuk memenuhi kebutuhan mereka. burung harus sering beradaptasi dan memanfaatkan peluang yang ada untuk memenuhi kebutuhan mereka dan memastikan kelangsungan hidup spesies mereka.

Menjadi oportunis juga membantu burung dalam mengatasi keterbatasan sumber daya yang tersedia. Misalnya, jika sumber makan tertentu menjadi langka, burung dapat dengan cepat menyesuaikan diri dan mencari sumber makan alternatif. Ini memastikan bahwa burung dapat tetap bertahan hidup dan berkembang biak, meskipun lingkungan mereka berubah.

Secara singkat, burung menjadi oportunis karena ini adalah strategi yang efektif untuk memastikan kelangsungan hidup dan reproduksi mereka dalam lingkungan yang sering berubah dan penuh dengan ancaman.

 


MENJADI BAGIAN KELUARGA BURUNG AIR

Blekok sawah merupakan bagian dari keluarga burung air yang walaupun secara garis besar pakan keluarga burung-burung ini adalah ikan, namun ada juga jenis-jenis ini yang menjadi pemakan segalanya (omnivora) seperti blekok sawah ini. Dan dari pemakan serangga ini, Blekok sawah mempunyai fungsi penting di perkotaan, terutama di area hutan mangrove dan pesisir Jakarta. Nah beberapa fungsi dari burung air di perkotaan adalah sebagai berikut :

  1. Kontrol populasi serangga: Burung air memakan serangga dan membantu dalam mengendalikan populasi serangga, yang bisa menyebabkan kerusakan pada tanaman dan makanan.
  2. Manfaat ekonomi: Burung air dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat perkotaan, seperti dalam industri pariwisata dan pemantauan lingkungan.
  3. Penambah keindahan: Keberadaan burung air di kota dapat menambah keindahan lingkungan dan meningkatkan kualitas hidup bagi warga kota.

Dengan demikian, keberadaan burung air memiliki peran penting dalam memelihara keseimbangan ekosistem dan memberikan manfaat bagi lingkungan dan masyarakat di kota. Oleh karena itu, sangat penting untuk melindungi dan memelihara burung air dan juga habitatnya di perkotaan.


 

No comments: