Jakarta – Di tengah hiruk-pikuk ibu kota yang dipenuhi
gedung pencakar langit dan lalu lintas yang tak pernah sepi, sebuah kejutan
ekologis muncul di kawasan Gelora Bung Karno (GBK) Senayan. Jamur Tudung
Pengantin (Phallus indusiatus), spesies jamur yang jarang ditemukan di
daerah urban, kembali terlihat di habitat hijaunya yang tersisa.
Penemuan ini menjadi perbincangan di kalangan ahli ekologi
dan penggiat lingkungan. Phallus indusiatus dikenal sebagai bioindikator
lingkungan yang sehat karena hanya tumbuh di ekosistem dengan kelembaban tinggi
dan tanah yang subur. Jamur ini memiliki tudung berjaring menyerupai gaun
pengantin yang menjuntai dari bagian puncaknya, menjadikannya salah satu jamur
dengan bentuk paling unik di dunia.
Ekosistem yang Berubah?
Kemunculan jamur ini mengundang pertanyaan: apakah ini
pertanda ekosistem Jakarta, khususnya GBK, semakin membaik?
Kehadiran Phallus indusiatus menunjukkan bahwa
kondisi mikrohabitat di GBK cukup mendukung kehidupan spesies yang sensitif
terhadap perubahan lingkungan. Ini bisa jadi indikasi bahwa kelembaban dan
kualitas tanah di area tersebut masih cukup baik untuk mendukung pertumbuhan
jamur.
Di sisi lain, bisa jadi ada perubahan kecil dalam kondisi
lingkungan, seperti peningkatan jumlah bahan organik dari dedaunan yang
membusuk atau berkurangnya penggunaan pestisida di sekitar GBK, yang membuat
jamur ini muncul.
Keunikan dan Manfaat Phallus indusiatus
Jamur Tudung Pengantin tidak hanya dikenal karena
keindahannya, tetapi juga memiliki nilai ekologis dan manfaat kesehatan. Di
beberapa negara Asia seperti China dan Jepang, jamur ini digunakan dalam
pengobatan tradisional karena diyakini memiliki sifat antioksidan dan
meningkatkan daya tahan tubuh.
Selain itu, jamur ini memainkan peran penting dalam
ekosistem sebagai dekomposer, membantu menguraikan bahan organik di dalam tanah
dan meningkatkan kesuburan.
Namun, di balik pesonanya, jamur ini juga memiliki aroma
menyengat yang khas. Bau busuk yang dihasilkannya bertujuan menarik serangga
seperti lalat untuk membantu penyebaran sporanya. Banyak yang menyebutnya
‘jamur berbau bangkai’ karena aromanya yang kuat, tetapi ini adalah strategi
alami yang cerdas untuk bertahan hidup.
Pelajaran dari Jamur di Tengah Kota
Penemuan ini memberi harapan bahwa meskipun Jakarta terus
berkembang pesat, ruang-ruang hijau seperti GBK masih bisa menjadi rumah bagi
keanekaragaman hayati yang unik. Namun, para ahli juga mengingatkan bahwa
keberadaan jamur ini bisa bersifat sementara jika ekosistem tidak dikelola
dengan baik.
Kita harus memastikan bahwa lingkungan yang mendukung
keberadaan spesies seperti Phallus indusiatus tetap terjaga. Ini bisa
dilakukan dengan mengurangi penggunaan bahan kimia di ruang hijau,
mempertahankan tutupan vegetasi, dan menjaga siklus alami ekosistem.
Ke depan, penemuan ini bisa menjadi titik awal untuk
penelitian lebih lanjut tentang fungi urban dan bagaimana kita bisa menjaga
keanekaragaman hayati di kota-kota besar. Bagi para pejalan kaki di GBK,
mungkin ada baiknya mulai memperhatikan lebih saksama lantai hutan kota
mereka—siapa tahu, ada kejutan ekologis lain yang menunggu untuk ditemukan.